Ramadhan: Momentum Kepemimpinan Teladan untuk Supremasi Sipil dan Harmoni Sosial
Oleh: Feri Fadli Rizki, S.IP., M.Si.
Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, STISIP Banten Raya
Bulan Ramadhan selalu menjadi pengingat kuat akan esensi kepemimpinan sejati. Puasa bukan hanya ritual fisik, melainkan latihan spiritual yang membentuk pemimpin adil, bertanggung jawab, dan mampu menegakkan supremasi sipil. Di tengah dinamika kehidupan sosial modern, Ramadhan mengajak kita menghubungkan ibadah pribadi dengan tanggung jawab kolektif untuk masyarakat yang harmonis.
Kepemimpinan Ramadhan: Disiplin untuk Keadilan
Rasulullah SAW mencontohkan kepemimpinan ideal melalui puasa. Beliau memimpin umat dengan teladan, menahan diri dari kemewahan demi empati pada yang lemah. Hadits riwayat Bukhari menyatakan, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan menghisab diri, dosanya yang lalu diampuni." Ini mengajarkan pemimpin untuk "berpuasa" dari ego, nepotisme, dan penyalahgunaan wewenang.
Dalam supremasi sipil—di mana kekuasaan tunduk pada hukum dan rakyat—Ramadhan memperkuat integritas. Pemimpin yang taat puasa cenderung transparan, seperti menunda keputusan impulsif demi musyawarah.
Supremasi Sipil: Jembatan Harmoni Sosial
Supremasi sipil menjamin pemerintahan berbasis rakyat, bukan kekerasan. Ramadhan mewujudkannya melalui toleransi dan solidaritas. Buka puasa bersama, zakat, dan tarawih menyatukan beragam latar belakang, mengurangi konflik sosial. Pemimpin sipil bertugas melindungi ini: memastikan akses layanan publik adil, mencegah diskriminasi, dan mempromosikan dialog.
Di kehidupan sosial, Ramadhan ubah rutinitas menjadi solidaritas—berbagi makanan, saling maaf-memaafkan. Tantangan seperti inflasi makanan atau kelelahan kerja menuntut pemimpin sipil proaktif, seperti kampanye hemat dan bantuan sosial.
Relevansi Universal: Dari Individu ke Bangsa
Secara universal, Ramadhan inspirasi pemimpin global menjunjung supremasi sipil. Di tengah krisis sosial, nilai puasa dorong kebijakan inklusif anti-kemiskinan. Kehidupan sosial pasca-Ramadhan harus lanjutkan momentum: dari empati sementara jadi sistem keadilan permanen.
Ramadhan 1447 H ajak kita wujudkan kepemimpinan teladan. Dengan supremasi sipil kuat, harmoni sosial bukan mimpi. Selamat berpuasa, semoga jadi pemimpin bagi diri dan umat.
No comments