Breaking News

Menjejak Rasa di Bukit Kambangan Mancak; Dari Legitnya Durian Emas hingga Sepotong Senja di Panenjoan

Menjejak Rasa di Bukit Kambangan Mancak: 
Dari Legitnya Durian Emas hingga Sepotong Senja di Panenjoan
Oleh: Cecep Nikmatullah *) 
Serang, BantenMedsosNews - Tepat pukul sebelas siang, di bawah terik matahari yang mulai menyengat ubun-ubun, tiga sepeda motor dan satu unit Rush abu-abu berderu membelah jalanan kota. Rombongan kecil kami yang berjumlah tujuh orang ini berangkat tanpa rencana rumit, hanya bermodal satu tekad sederhana: berburu durian terbaik langsung dari pohonnya di pelosok Mancak. Sabtu (22/082026)

Begitu roda kendaraan meniti jalan cor Cilowong, wangi khas musim panen seketika menyeruak. Kiri-kanan jalan riuh oleh tumpukan durian warga dan jajaran lapak bambu yang memajang buah-buah berduri rapat. Godaannya memang kuat, tapi kami sepakat untuk tak menepi di sini. Tujuan kami ada di balik rimbun kelokan jalan yang kian menanjak ke perbukitan Mancak.
Aspal desa akhirnya tamat, berganti jalan rabat sempit yang menanjak terjal membelah Kampung Kambangan. Sadar rute di depan makin ekstrem, kami memutuskan tidak menyiksa mesin kendaraan. Mobil dan tiga motor resmi kami parkir di halaman rumah salah seorang warga yang teduh, sebelum petualangan berlanjut dengan adu kuat langkah kaki.

Petualangan sesungguhnya baru dimulai saat kaki mulai menapak jalan setapak Kampung Kambangan. Sepanjang satu kilometer perjalanan, kami membelah kebun warga yang teduh dan menyeberangi aliran sungai kecil berair bening dangkal. Tanjakan terjal sempat bikin dada kembang kempis, tapi hawa sejuk perbukitan seketika menguapkan lelah—apalagi ketika wanginya durian matang mulai tercium samar-samar, menandakan tujuan kami tinggal beberapa kelokan lagi.

Napas kami baru benar-benar teratur saat tiba di saung kebun sederhana di tengah perbukitan. Pemiliknya menyambut kami tanpa canggung, mengajak mendekat ke perapian unik di sudut tanah. Bukan tungku bata biasa, melainkan api yang dibiarkan hidup dan membakar perlahan rongga-rongga batang pohon tua yang sudah menahun.

Di atas bara yang masih menyala merah itu, kaleng bekas yang dinding luarnya sudah legam berkerak jelaga ditaruh untuk menjerang air kopi. Sembari tangannya tekun mengipas abu, pasangan muda yang setahun belakangan tinggal menjaga kebun nyeletuk santai. Katanya, air seduhan kopi itu sengaja dimasak di atas sisa bongkolan kayu tua—kayu yang konon pantang diduduki kalau tidak mau kena tulah petuah orang tua dulu. Entah mitos atau sekadar cara orang tua menjaga adab, celetukan itu langsung memancing tawa dan obrolan renyah di antara kami. Tak lama, cangkir-cangkir kopi hitam mengepul disodorkan ke depan mata, menjadi pengantar yang pas sebelum bilah parang pertama mulai membelah kulit durian.

Primadonanya tentu saja si Durian Emas, buah lokal yang selalu dibanggakan warga Kampung Kambangan. Begitu kulitnya terbelah, tampak daging buahnya yang montok dengan warna kuning tembaga menggoda. Teksturnya pulen lembut, lumer seketika di mulut dengan rasa manis legit pekat serta jejak pahit khas yang tertinggal di ujung lidah. Suasana saung seketika riuh tiap kali parang membelah buah berikutnya. Tanpa terasa, tiga belas butir durian ludes tandas kami lahap bertujuh, meninggalkan jemari yang lengket dan senyum puas di wajah masing-masing.

Perut sudah benar-benar begah, tapi rasanya terlalu dini untuk langsung pulang. Sekitar jam tiga sore, kami sepakat beranjak dan mulai menuruni jalan setapak kebun menuju tempat mobil dan motor dititipkan. Mesin kembali dinyalakan, rombongan bertolak menanjak ke arah Bukit Panenjoan untuk sekadar meluruskan kaki. Jalanan berbatu dan paving block yang menanjak curam kami lahap pelan-pelan, sampai akhirnya tiba di puncak yang dipenuhi deretan warung sederhana serta riuh pengunjung yang sama-sama berburu angin sore.

Manis legit yang sedari tadi menempel di tenggorokan tuntas ditebus oleh semangkuk mi rebus panas. Cabai setannya sukses bikin mata melek dan dahi basah oleh peluh, bergantian diselingi seduhan kopi hitam yang pekat. Beralaskan tikar seadanya di tanah berumput yang landai, kami membiarkan mata beristirahat, menatap luasnya hijau petak-petak sawah dari Padarincang dan Ciomas yang menyatu damai hingga ke arah Pabuaran.

Jarum jam bergeser ke angka lima. Hamparan petak sawah di bawah sana perlahan lindap disapu kabut sore yang turun kian rapat. Di atas rumput landai Panenjoan, obrolan kami akhirnya menemui ujungnya. Tikar digulung, helm dipasang, dan deru knalpot mulai membelah hawa dingin yang menusuk kulit. Lelah di kaki seusai menanjak bukit Mancak rasanya menguap begitu saja, kalah oleh rasa puas menuntaskan tiga belas durian emas dan hangatnya seduhan kopi kayu bakar. Kami bertolak pulang menyusuri aspal senja, membawa pulang sepotong ingatan manis tentang cara sederhana merawat persahabatan.
Redaksi : BMN-AFJ
*) Penulis adalah anggota Keluarga Sarasehan Alumni Banten-Yogyakarta. Menulis catatan perjalanan, kebudayaan, dan dinamika sosial-pendidikan di Banten.

No comments