Menyulam Marwah 74 Tahun Kesti TTKKDH di Kaki Taktakan Kota Serang Banten.
Gemuruh Kendang dan Sakralnya Keceran:
Menyulam Marwah 74 Tahun Kesti TTKKDH di Kaki Taktakan
Oleh: Cecep Nikmatullah*)
Heningnya kaki perbukitan Taktakan mendadak hidup oleh dentum gendang pencak, lengkingan terompet patingtung, serta langkah mantap ratusan pendekar berseragam hitam-putih khas perguruan. Lapangan kampung yang biasanya sunyi berubah menjadi pusat berkumpulnya para sesepuh, pengurus, jawara kawakan, hingga pesilat belia. Mereka datang menyatu dalam kehangatan dan rasa takzim, menyambut puncak Milad ke-74 Kesti TTKKDH yang berpadu dengan sakralnya tradisi Keceran.
Bagi warga Banten dan keluarga besar TTKKDH, Keceran tidak pernah diposisikan sebatas seremoni tahunan. Di tengah temaram lampu dan lirih rapalan zikir, aroma wangi menyan serta kepulan bukhur yang naik perlahan membuat suasana malam kian hening dan sakral. Tradisi meneteskan air ramuan khusus ke mata pendekar sejatinya adalah laku batin: membersihkan pandangan dari hal-hal kotor, mengasah kepekaan rasa, sekaligus menancapkan pesan agar setiap langkah hidup selalu bertumpu pada kejujuran dan kerendahan hati.
Sejak matahari terbenam hingga lewat tengah malam, suasana khidmat tak sedikit pun luntur. Duduk berdampingan di sana, para pengurus dari tingkatan ranting, cabang, wilayah, hingga jajaran pusat DPP berbaur tanpa sekat bersama para kasepuhan perguruan dan tokoh masyarakat Cipaung. Pertemuan lintas generasi ini menegaskan kembali ikatan persaudaraan mereka yang sudah lama mengakar kuat di tanah Banten.
Meneguhkan Marwah dan Pengendalian Diri
Di tengah heningnya malam yang kian larut, suara Sekretaris Wilayah DPW Kesti TTKKDH Provinsi Banten, Ridho Dinata, terdengar begitu bertenaga menyapa ribuan pendekar yang duduk bersila di hadapannya. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa perjalanan 74 tahun perguruan ini bukan sekadar perayaan angka di atas kalender. Lebih dari itu, usia ini adalah bukti keteguhan Kesti TTKKDH yang pantang surut merawat warisan para sesepuh, memastikan api tradisi dan marwah keilmuan tetap hidup di tengah arus zaman yang kian deras.
Di hadapan para pendekar yang menyimak khusyuk, Sekretaris Wilayah DPW Kesti TTKKDH Banten mengingatkan bahwa usia 74 tahun menuntut kedewasaan bersikap. “TTKKDH bukan cuma soal lincahnya jurus atau kuatnya raga saat pasang kuda-kuda. Ruh perguruan ini ada pada adab, akhlak, dan watak pendekar yang pantang sombong,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa Keceran pada hakikatnya adalah momentum bercermin. Di hadapan ratusan pasang mata yang menyimak khusyuk, ia menegaskan nilai luhur perguruan. “Air keceran yang diteteskan malam ini adalah sumpah pembersihan diri. Jangan sampai kita terlena godaan duniawi atau salah jalan menggunakan ilmu silat. Ajaran Cimande diwariskan untuk membela kebenaran, bukan ajang unjuk kekuatan. Pendekar yang sesungguhnya adalah yang paling tangguh menundukkan hawa nafsunya sendiri,” tegasnya.
Menatap tantangan zaman, Sekwil DPW Banten menaruh harapan besar di pundak generasi muda TTKKDH se-Banten, khususnya di Kota Serang. Baginya, anak-anak muda perguruan harus pandai membaca zaman tanpa mencabut akar tradisinya sendiri. Di tengah pusaran serba digital, pendekar TTKKDH tidak boleh sekadar berdiam merawat ritus, melainkan harus hadir nyata di tengah masyarakat—turut membangun daerah, mengulurkan tangan dalam kerja-kerja sosial, serta menjadi jembatan peneduh yang merajut persaudaraan di saat masyarakat mudah terbelah.
Harmoni Gerak, Sejarah, dan Nilai Religius
Panggung pelataran Cipaung kian hidup saat para pendekar mulai unjuk kemahiran jurus Tjimande Tari Kolot. Irama patingtung yang dinamis menuntun setiap gerak langkah—sebuah harmoni ganjil nan memikat antara kelembutan seni tari tradisi dan ketukan tangkisan silat yang lugas lagi bertenaga. Dari anak-anak belia yang gerakannya masih polos namun mantap, hingga deretan sesepuh yang langkah kakinya telah kenyang asam garam perguruan, semua membaur memperagakan jurus dasar. Pemandangan ini menegaskan satu hal penting: denyut regenerasi keilmuan Cimande di tanah Taktakan tidak pernah susut oleh zaman.
Keterikatan masyarakat Pancur dengan TTKKDH memang bukan perkara baru kemarin sore. Sejak tapak pertama perguruan ini dipancangkan pada 1952, keberadaannya telah menyatu dalam tarikan napas warga—bukan sekadar bela diri raga, melainkan jalan hidup yang merajut keluhuran nilai tasawuf Islam dengan keteguhan tradisi warisan para leluhur Banten.
Dipandu langsung oleh jajaran kasepuhan, prosesi sakral itu berjalan begitu khidmat. Para anggota duduk bertafakur, bergantian menerima tetesan air keceran dengan kepala tertunduk hormat. Di balik rapalan doa yang lirih, setiap tetesnya menjelma saksi pembersihan diri—meneguhkan kembali sumpah Panca Setia TTKKDH agar tetap hidup dalam budi pekerti dan tindakan mereka di tengah masyarakat.
Kabut tipis perlahan turun memeluk lekuk perbukitan Taktakan saat malam kian merambat larut, namun kehangatan di Kampung Cipaung seolah enggan beranjak. Di antara sisa wangi bukhur yang memudar dan kepalan tangan para pendekar yang kembali merapat, doa-doa para kasepuhan menjadi pamungkas yang menyusup hening ke relung dada—memohon keselamatan negeri, keteguhan paguyuban, serta keberkahan bagi tanah Banten.
Peringatan 74 tahun Kesti TTKKDH di tanah Pancur ini pada akhirnya menegaskan satu titah batin: selama gemuruh kendang patingtung masih berdenyut dan tetes sakral air keceran terus menyucikan pandangan, marwah leluhur Cimande takkan pernah padam digilas zaman. Ia akan tetap hidup, terpatri kokoh, dan mengalir bening di setiap hembusan napas para ksatria penjaga tradisi.
*) Penulis adalah Pengurus DPW Kesti TTKKDH Provinsi Banten & Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan Tradisional Banten.
Redaksi : BMN-AFDJ
No comments