Breaking News

Mahasiswa STISIP Banten Raya Keluhkan Program Magang Tidak Sesuai Jurusan dan Minim Transparansi


Pandeglang – Sejumlah mahasiswa STISIP Banten Raya mengeluhkan pelaksanaan program magang yang dinilai tidak berjalan sesuai tujuan akademik. Program yang seharusnya menjadi sarana menghubungkan teori dengan praktik di dunia kerja itu disebut menghadapi berbagai persoalan, mulai dari penempatan yang tidak sesuai jurusan hingga minimnya transparansi dalam penyelenggaraan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebanyak 96 mahasiswa mengikuti program magang dengan dikenakan biaya sebesar Rp900.000 per peserta. Sejumlah mahasiswa mempertanyakan rincian penggunaan dana tersebut karena mengaku belum memperoleh penjelasan secara terbuka dari pihak penyelenggara. Mereka juga menyebut memperoleh informasi bahwa Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) menerima honor sebesar Rp200.000 per mahasiswa, namun informasi tersebut hingga kini belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak kampus.

Selain persoalan biaya, mahasiswa mengaku menghadapi berbagai kendala sejak hari pertama pelaksanaan magang. Beberapa peserta menyatakan ditempatkan di instansi yang dinilai tidak sesuai dengan program studi, sebagian belum menerima buku panduan magang, sementara ada mahasiswa yang datang ke lokasi tanpa membawa surat pengantar. Bahkan, terdapat instansi tujuan yang menyatakan kuota peserta telah penuh, serta ada pula instansi yang mengaku belum menerima informasi resmi mengenai pelaksanaan magang sehingga proses administrasi harus dilakukan kembali.

Salah seorang mahasiswa yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kecewa terhadap pelaksanaan program tersebut.

"Anak-anak di grup kelas pada ngeluh. Yang sudah bayar pun ada yang tidak membawa surat pengantar, sampai di lokasi katanya sudah penuh. Ada juga instansi yang seolah belum mengetahui apa-apa dan masih harus menunggu disposisi, padahal tempat itu dipilih oleh kampus. Rincian biaya juga tidak transparan, tidak ada toleransi pembayaran, dan panitia dinilai kurang sigap. LPPM harus bertanggung jawab kalau seperti ini," ujarnya.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STISIP Banten Raya, Ahmad Hadi, mendesak Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) selaku pelaksana program untuk segera melakukan evaluasi secara menyeluruh.

Menurut Ahmad Hadi, program magang merupakan bagian penting dari proses pembelajaran sehingga pelaksanaannya harus dilakukan secara profesional, transparan, dan sesuai dengan tujuan pendidikan tinggi.

"Kami meminta LPPM segera mengevaluasi seluruh mekanisme pelaksanaan program magang, mulai dari proses penempatan mahasiswa, administrasi, koordinasi dengan instansi mitra, hingga transparansi penggunaan anggaran. Permasalahan yang terjadi tidak boleh dianggap sebagai hal biasa karena berdampak langsung terhadap proses pembelajaran mahasiswa," katanya.

Ia juga meminta LPPM mengkaji ulang mekanisme penyelenggaraan program magang agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada pelaksanaan berikutnya. Menurutnya, evaluasi menyeluruh menjadi penting mengingat sejumlah program akademik sebelumnya, seperti Studi Lapangan Keilmuan (SLK) dan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), juga disebut masih menghadapi berbagai persoalan terkait persiapan dan transparansi.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak LPPM STISIP Banten Raya maupun pimpinan kampus belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai keluhan yang disampaikan mahasiswa (Fariz). 

No comments