Breaking News

Hardiknas 2026 : Menanam Benih Adab, Menuai Buah Literasi di Era Kecerdasan Buatan

Serang, BantenMedsosNews, Tepat di hari peringatan Hardiknas, Pimred BantenMedsosNews berkunjung ke Salah Satu Tokoh Muda Pontang Kang Dr. Cecep Nikmatullah Kelahiran Singarajan Pontang, berikut hasil diskusi tentang tantangan Pendidikan dan Masa Depan Pendidikan Bangsa Indonesia, yang dituangkan dalam tulisan beliau, Senin (04/05/2026)

Hardiknas 2026: Menanam Benih Adab,
Menuai Buah Literasi di Era Kecerdasan Buatan
Oleh: Cecep Nikmatullah*
Dua Mei bukan sekadar angka di kalender. Ia adalah warisan semangat Ki Hadjar Dewantara yang mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah “tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Di tahun 2026 ini, ketika teknologi AI dan otomasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian, tantangan dunia pendidikan kita telah bergeser: Bukan lagi soal akses terhadap informasi, melainkan kapasitas untuk mengolah informasi tersebut secara kritis dan beretika.

Di tahun 2026 ini, ada tiga alasan mengapa poin di atas menjadi sangat krusial: Pertama, Filter di Tengah Banjir Informasi: Di mana era AI, informasi datang secara instan dan masif. Tanpa kemampuan berpikir kritis, anak didik kita berisiko hanya menjadi pengonsumsi algoritma, bukan pemikir yang mandiri; Kedua, Etika sebagai Pembeda: Di mana keahlian teknis bisa dipelajari oleh mesin, tetapi kebijaksanaan (wisdom) dan etika dalam menggunakan teknologi adalah murni kapasitas manusia. Inilah yang menjadi benteng agar teknologi memperadabkan manusia, bukan sebaliknya; Ketiga, Pendidikan Karakter yang Kontekstual: Di mana menjalankan “tuntunan” dalam filosofi Ki Hadjar Dewantara berarti memastikan anak-anak tetap berpijak pada nilai-nilai luhur dan budaya lokalnya, meskipun mereka berkompetisi di panggung global yang serba digital.

Tantangan kita sekarang adalah bagaimana memastikan bahwa kurikulum dan metode pembelajaran di sekolah tidak hanya mengejar ketangkasan kognitif, tetapi juga mengasah kedalaman spiritual dan empati sosial.

Sejujurnya, jika kita bicara secara objektif, sistem asesmen kita masih berada dalam masa transisi yang cukup menantang. Meskipun kebijakan pusat sudah mulai bergeser ke arah asesmen kompetensi dan karakter, dalam praktiknya di lapangan, tekanan terhadap “angka” masih sangat terasa. Hal ini dapat dilihat dalam potret realita dan masukan terkait sistem penilaian tersebut: Pertama, jebakan “kuantifikasi” karakter. Mengukur kapasitas kritis itu sulit, tapi mengukur etika jauh lebih sulit lagi. Saat ini, penilaian karakter seringkali masih terjebak pada format checklist atau pengamatan administratif yang sifatnya formalitas. Masalahnya adalah etika tidak bisa dinilai hanya dari apakah seorang siswa datang tepat waktu atau berpakaian rapi. Etika adalah tentang bagaimana mereka mengambil keputusan sulit saat menghadapi dilema moral. Sehingga perlu lebih banyak Asesmen Otentik melalui studi kasus atau diskusi dilema moral. Biarkan siswa berargumen, dan nilai cara mereka berpikir, bukan sekadar jawaban “benar” atau “salah”.
Kedua, adanya dominasi kognitif vs. proses. Di mana sebagian besar ujian masih berfokus pada lower-order thinking skills (mengingat dan memahami). Padahal, untuk mengukur kemampuan kritis, kita butuh soal-soal yang menuntut analisis dan sintesis. Hal ini dapat dilihat pada akar masalahnya yakni angka (nilai ujian) seringkali menjadi “berhala” karena lebih mudah diolah untuk keperluan administratif (seperti PPDB atau kelulusan). Solusinya adalah dengan memperkuat Penilaian Portofolio. Proyek-proyek yang dikerjakan siswa selama satu semester—terutama yang berdampak pada lingkungan sekitar—jauh lebih mampu menggambarkan kapasitas kritis mereka daripada ujian pilihan ganda berdurasi 90 menit.
Ketiga, Literasi Digital dalam Asesmen. Di tahun 2026, ketika AI bisa menjawab hampir semua soal teori dengan sempurna, ujian berbasis pengetahuan menjadi kurang relevan. Jika ujian masih bersifat hafalan, siswa hanya akan menggunakan AI untuk mencari jawaban tanpa memahami prosesnya. Sebagai masukan dapat dilakukan dengan mengubah metode ujian menjadi Open-Source/Open-AI Assessment. Dengan mengizinkan siswa menggunakan alat bantu, namun mintalah mereka untuk mengkritisi jawaban yang diberikan AI tersebut. Di situlah kapasitas “kritis” mereka benar-benar diuji.
Keempat, umpan balik kualitatif, bukan sekadar rapor. Angka di rapor seringkali tidak berbicara banyak tentang perkembangan personal seorang anak. Masalah yang terjadi, orang tua seringkali hanya bertanya, “Kenapa nilainya 70?”, bukan “Apa yang kamu pelajari dari kegagalan ini?”. Dengan demikian seharusnya, narasi atau deskripsi kualitatif dalam rapor harus lebih dominan daripada angka. Fokus pada perkembangan soft skills seperti kolaborasi, kegigihan, dan integritas.
Sistem kita sedang berusaha keluar dari bayang-bayang “pemujaan angka”, namun perjalanannya masih panjang. Perubahan besar tidak hanya harus terjadi di regulasi pusat, tapi juga pada cara pandang guru di kelas dan orang tua di rumah.
Refleksi Pendidikan Saat Ini

Kita telah melewati fase digitalisasi besar-besaran. Ruang kelas kini lebih inklusif dengan bantuan teknologi. Namun, di tengah gemerlap layar gadget, kita masih menghadapi tantangan fundamental: kesenjangan kualitas antar daerah dan krisis karakter pada generasi muda. Pendidikan kita tidak boleh hanya mencetak "operator mesin" yang pintar secara teknis, tapi harus membentuk manusia yang memiliki kedalaman nurani.
“Gemerlap layar gadget” seringkali menjadi pedang bermata dua; di satu sisi ia memperpendek jarak informasi, namun di sisi lain ia bisa menciptakan jarak emosional dan pendangkalan makna belajar jika tidak dikelola dengan bijak.
Tantangan “krisis karakter” dan “kedalaman nurani” menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar bagi pendidikan kita di tahun 2026 ini. Butuh beberapa langkah nyata untuk memastikan sekolah tetap menjadi tempat “memanusiakan manusia,” bukan sekadar tempat pelatihan teknis: Pertama, Mengembalikan "Rasa" dalam Ruang Digital. Teknologi harus berfungsi sebagai alat bantu (tool), bukan pengganti kehadiran guru dan interaksi sosial. Sebagai aksi nyata, dengan memperbanyak aktivitas yang melatih empati di sekolah, seperti diskusi kelompok tanpa perangkat digital, kegiatan bakti sosial, atau proyek kolaboratif yang mengharuskan siswa turun ke lapangan untuk membantu masyarakat sekitar. Inilah tempat di mana nurani diasah melalui pengalaman nyata.
Kedua, Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal (Local Wisdom). Untuk mengatasi krisis karakter, kita perlu menarik kembali nilai-nilai luhur dari akar budaya kita sendiri. Sebagai langkah nyata, dapat mengintegrasikan filosofi lokal ke dalam keseharian sekolah. Misalnya, membudayakan gotong royong dalam merawat lingkungan sekolah atau menghidupkan kembali sastra dan bahasa daerah yang sarat akan pesan moral dan etika. Hal ini membangun identitas yang kuat agar siswa tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi.

Ketiga, Guru sebagai Arsitek Karakter. Jika pendidikan hanya soal transfer pengetahuan, AI sudah melakukannya dengan lebih efisien. Namun, AI tidak bisa memberikan keteladanan. Peran guru harus bergeser dari pengajar materi menjadi mentor dan model peran (role model). Guru yang menunjukkan integritas, kejujuran, dan kepedulian akan lebih membekas di hati siswa daripada ribuan baris teks di layar tablet.

Keempat, Mengatasi Kesenjangan dengan “Digital Equity”. Kesenjangan kualitas antar daerah seringkali berakar pada akses. Bukan hanya akses perangkat, tapi juga akses terhadap kualitas pendampingan. Pemerintah dan sektor swasta perlu memastikan bahwa sekolah di daerah terpencil tidak hanya mendapatkan bantuan laptop, tapi juga kurikulum yang relevan dengan kebutuhan lokal serta pelatihan berkelanjutan bagi pendidiknya agar kualitas pengajaran menjadi setara.

Masukan untuk Transformasi Pendidikan Kita
Untuk membawa pendidikan Indonesia ke level berikutnya, ada empat pilar utama yang perlu kita perkuat bersama: Pertama, Reorientasi Kurikulum: Fokus pada “Human-Centered Skills”. Di tengah kepungan algoritma, kemampuan yang tidak bisa digantikan mesin adalah kreativitas, empati, dan pemecahan masalah yang kompleks. Dengan begitu, kurikulum perlu memberikan ruang lebih besar bagi pembelajaran berbasis proyek (PBL) yang menyentuh isu sosial nyata di sekitar sekolah.

Kedua, Kesejahteraan dan Martabat Guru. Guru adalah jantung dari sistem pendidikan. Teknologi hanyalah alat; inspirasi tetap datang dari manusia. Dengan demikian, peningkatan kompetensi guru jangan hanya fokus pada administrasi digital, melainkan pada kemampuan pendampingan psikologis (mentorship) dan kesejahteraan finansial yang menjamin mereka bisa fokus mengajar dengan tenang.

Ketiga, Literasi Digital dan Etika Data. Pandai menggunakan media sosial tidak sama dengan memiliki literasi digital. Dengan begitu, dapat dilakukan dengan cara memasukkan kurikulum mengenai pemikiran kritis (critical thinking) untuk menyaring hoaks, pemahaman privasi data, serta etika dalam berinteraksi di ruang siber sejak pendidikan dasar.

Keempat, Kolaborasi Lintas Sektor (Ekosistem Pendidikan). Pendidikan bukan hanya tanggung jawab Kemendikbudristek. Sekolah, keluarga, dan industri harus duduk bersama. Perbanyak program link and match yang autentik, di mana industri turut mendesain materi ajar, dan orang tua terlibat aktif dalam pengawasan pendidikan karakter di rumah.
Bergerak Bersama
Semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani tetap relevan hingga hari ini. Menghadapi sisa dekade 2020-an, pendidikan kita harus menjadi jangkar yang kuat di tengah arus perubahan global.
Meletakkan Adab sebagai “benih” dan Literasi sebagai “buah” menciptakan sebuah filosofi pendidikan yang utuh: bahwa kecerdasan tanpa fondasi moral hanya akan melahirkan kehampaan, bahkan potensi kerusakan di era digital. Di tahun 2026 ini, ketika kecerdasan buatan (AI) mampu memproduksi teks, gambar, hingga kode pemrograman dalam hitungan detik, makna “Literasi” pun harus mengalami evolusi.

Hardiknas 2026 harus menjadi momentum bagi kita semua untuk menyadari bahwa semakin tinggi teknologi yang kita gunakan, semakin tinggi pula kualitas kemanusiaan yang harus kita miliki. Kita tidak ingin mencetak generasi yang mahir teknologi tapi miskin empati, atau pintar secara intelektual tapi kering secara spiritual.

Mari kita jadikan Hardiknas 2026 sebagai momentum untuk berhenti sejenak dari mengejar nilai di atas kertas, dan mulai fokus membangun manusia Indonesia yang beradab, cerdas, dan tangguh. Selamat Hari Pendidikan Nasional! Mari terus bergerak untuk merdeka belajar.
*) Penulis saat ini bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang

No comments